Berita Terkini

LAJU ‘ALEK BAKAJANG” DI PENTAS NASIONAL

Post Title

Kominfo, Limapuluh Kota —Jika dibilang dengan jari, tak banyak daerah di Sumatera Barat punya atraksi megah, meriah dan kolosal. Diantaranya barangkali, “Alek Bakajang” dan “Potang Balimau” di Kabupaten Limapuluh Kota atau “Hoyak Tabuik” dan “Basafa” di Kabupaten Pariaman.

Iven-iven kolosal itu, kebanyakan berciri religius berkelindan dengan adat dan budaya setempat. Tradisi itu, akarnya ternyata menghujam kuat di sanubari masyarakat. Membuat ia hidup sejak ratusan tahun lalu. Tak ayal bila tiba waktunya, nagari & jorong  dimana rangkaian  iven itu dihelat menjadi lebih hidup dibanding hari-hari biasa.  Warga tumpah ruah, tak pandang status, batas umur, di kampung atau di rantau, semua ambil perannya masing-masing dalam gelaran kolosal ini. Selama iven pun, warga dari luar datang berduyun-duyun, mereka memanjakan mata untuk menyaksikan iven yang sarat emosi dan budaya ini. 

Sebut saja iven “Alek Bakajang”, tradisi asli masyarakat Nagari Gunung Malintang, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kabupaten Limapuluh Kota. Tradisi yang menggambarkan ikatan kultur antar stratifikasi sosial dalam budaya Minangkabau yang berciri matrilineal, kedekatan dengan budaya perairan (sungai-Red), serta pesan-peran moral dan agama.  Tali temali tradisi ini bertautan dengan perayaan  Idul Fitri dalam tarikh Hijrah, biasanya iven mulai hari ke-empat selama kurang lebih 1 minggu. Gegap gempitanya tradisi ‘Alek Bakajang’ ini membuat pelaksana Anugerah Pesona Indonesia jatuh hati, sehingga Alek Bakajang masuk nominasi Anugerah Pesona Indonesia (API) Tahun 2021. API adalah kompetisi tiap tahun untuk mengangkat potensi wisata daerah dgn brand Pesona Indonesia Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenperaf).

Penyelenggaraan Tahun 2021 bekerjasama dengan Pemkab Musi Banyuasin, Sumsel.
Bupati Limapuluh Kota tak dapat menyembunyikan kegembiraannya atas terpilihnya “Alek Bakajang” masuk dalam nominasi Anugerah API 2021

“Kita bersukur, Bakajang masuk dalam nominasi API 2021, setelah setahun lalu kita Juara 2 dengan pesona Kampung Sarugo untuk kategori Kampung Adat, ini menambah semangat kita menggali sektor pariwisata untuk kemajuan daerah.” Hal itu diungkapkan Bupati Safaruddin dihadapan para Kepala Organisasi Perangkat Daerah pada Rapat Koordinasi Daerah, beberapa waktu lalu. “ Bakajang” kini tak lagi melaju di Batang Mahat, kini “Bakajang” melaju di pentas nasional.

Sebenarnya seperti apa persisnya “Alek Bakajang” itu? Istilah Bakajang diambil dari kata Kajang yang menurut bahasa Melayu Kuno berarti perahu atau sampan, merupakan alat transportasi di masa lalu yang digunakan oleh niniak mamak 4 suku dari Candi Muara Takus menuju Nagari Gunuang Malintang yang melintasi perairan sungai Batang Mahat. Pelaksanaan “Alek Bakajang” yang dilaksanakan sampai sekarang merupakan warisan nenek moyang orang Gunuang Malintang, diawal pertama kali memasuki daerah ini kemenakan manjalang, manjanguak niniak mamak dengan sarana sampan kajang (perahu yang dihiasi) dari jorong yang satu ke jorong yang lain melalui sungai Batang Mahat dan membawa satu carano lengkap dengan isinya dimasa itu, karena dulu belum adanya jalan raya seperti sekarang ini dan sebagian besar wilayah ini baru hutan rimba. Sungai Batang Mahat inilah  sarana untuk mempersatukan suatu suku, satu golongan, satu kemenakan dengan kemenakan lainnya.

Acara “Alek Bakajang” menampilkan 5 buah Kajang yang telah dihias oleh setiap anak nagari masing-masing jorong yang ada di Nagari Gunuang Malintang. Tiap-tiap jorong akan menjadi tuan rumah dari acara Bakajang secara bergantian. Selain Kajang, surau yang menjadi tempat perkumpulan niniak mamak, bundo kanduang, dan cadiak pandai juga dihias yang biasanya disebut istano. Kelima Kajang yang sudah dihias, akan diperlombakan dan dinilai setiap harinya lalu pada hari terakhir akan diumumkan pemenangnya. Peserta dan pelaku “Alek Bakajang” adalah pemuda, niniak mamak, alim ulama, pemerintahan nagari, tokoh masyarakat, PKK, bundo kanduang, perantau dan donatur serta masyarakat Nagari Gunuang Malintang. “Alek Bakajang” dilaksanakan pada hari keempat di bulan Syawal (hari raya ke-4) selama 5 hari berturut – turut, yang dilaksanakan pada Istano Dt. Bandaro di Jorong Koto Lamo, Istano Dt. Sati di Jorong Batu Balah, Istano Dt. Paduko Rajo di Jorong Baliak Bukik/Jorong Boncah Lumpur, Istano Dt. Gindo Simarajo di Jorong Koto Mesjid, Istano Pemerintahan Nagari, Alim Ulama dan Pemuda di Jorong Baliak Bukik/Jorong Boncah Lumpur.

Maksud diadakannya “Alek Bakajang” ini untuk meningkatkan silaturahmi antara anak nagari, ninik mamak, alim ulama dan pemerintah, dengan tujuan mempererat persatuan, melestarikan adat budaya nagari, membangkitkan kreatifitas pemuda nagari, sebagai sarana menyampaikan informasi adat istiadat, agama, peraturan nagari dan informasi pemerintah serta menambah pendampatan masyarakat sebagai sebuah destinasi wisata di Kabupaten Lima Puluh Kota. Ini tak jauh berbeda dari hasil penelitian Hidayat, pada thesisnya pada jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Univesitas Andalas. Dikutip dari simpulan risetnya, bahwa makna tersirat dari tradisi ini ternyata  Bakajang adalah sarana juga untuk  menjalin silaturahmi dan persatuan antar warga di Nagari Gunung Malintang.

Pada puncak pelaksanaan tradisi “Alek Bakajang” di Nagari Gunuang Malintang terdiri dari 4 rangkaian yaitu acara pembukaan, acara inti di atas surau, acara hiburan, dan acara penutupan. Acara pembukaan merupakan proses yang paling diutamakan dan dimulai setelah shalat Zuhur sekitar pukul 13.00 WIB. Proses acara pembukaan yaitu niniak mamak beserta rombongan diarak sekitar 10 km dari surau kemudian disambut dengan Tari Pasambahan. 

Kemudian dilanjutkan dengan acara inti dimana niniak mamak dari keempat suku berkumpul di atas surau kemudian menyampaikan pidato-pidato adat yang berisi pengajaran-pengajaran bagi anak kemenakan, dan saling bersilaturrahmi. Dalam acara inti juga pemerintah nagari membahas atau mensosialisasikan peraturan-peraturan nagari pada tahun berikutnya. Acara di atas surau ini berlangsung sekitar 4 jam yaitu dimulai pukul 13.00 – 16.00 WIB.

Selanjutnya acara hiburan dimulai dengan panjat pinang yang diikuti oleh pelajar kemudian selaju sampan yang diikuti pemuda Nagari Gunuang Malintang. Untuk selaju sampan satu tim terdiri dari 3 orang dengan satu kali main ditandingkan 2 tim berpacu menggunakan sampan di sungai, begitu seterusnya sampai didapatkan pemenangnya.  (Septi, Kominfo)

Sumber foto: Siar Minang